Ketika kalimat terakhir tentang mengadopsi kucing itu keluar, hampir dipastikan semua Hamada bersaudara kecuali Tarou hanya bisa terdiam dan melongo. Tarou lalu menggoyang tubuh adiknya yang ada dalam rangkulannya. “Oh ayolah! Bilang oke begitu dong!”
Take spontan tersedak. Ia terlihat ingin tertawa dan meringis bersamaan. Tadashi menggeleng heran sambil sesekali tertawa kecil. Tarou menambahkan beberapa hal lagi untuk rencana hubungan pernikahan mereka di masa depan, sedikit detail tentang siapa yang bertugas membersihkan rumah dan pada dasarnya jadi ibu rumah tangga di rumah masa depan yakni Take. Sebelum Tarou mulai merambah ke hal-hal yang lebih memalukan, Take memutus percakapan mereka karena dia ada panggilan dari kantor ‘kepolisian’. Tarou cemberut ketika mau tak mau panggilan skype harus diputus karena Take akan membawa laptopnya ke tempat kerja.
“Itu salahmu karena kau merusakkan komputermu sendiri. Siapa suruh bercinta diatas meja komputer huh? Kau dan seks liarmu.”
Hiro dan Tadashi spontan mengerang keras. “Terlalu banyak informasi yang aku tak butuh dengar!” Hiro berteriak kearah layar komputer. Tadashi memasang wajah jijik pada kakak tertua mereka yang dibalas Tarou dengan senyum malu-malu. “Well, pada saat itu rasanya seperti sesuatu yang asyik saja melakukannya disana.”
“Oh god stop! dasar kau mesum! Aku tak mau dengar apa-apa lagi!”