Dengan senyuman yang permanen di wajahnya, Tadashi mencium dahi adiknya lembut dan membisikkan happy sweet seventeen. Hiro menutup pintu dengan helaan nafas yang berat. Ia menempelkan kepalanya di dinding pintu dan meremas kaosnya, berharap detak jantungnya berhenti berusaha untuk melompat keluar. Hiro lalu berjalan lunglai kearah kasur dan memproses diri membentuk kepompong. Wajahnya yang masih terasa panas membuatnya kesal.
Ia tak bisa mengeluarkan imajinasi tentang mereka berempat tinggal bersama. Menikah? Ya tuhan, Tarou memang gila. Dan ia mungkin saja bermimpi tentang ‘sesuatu yang seharusnya tidak terjadi diantara saudara’ saat tidur siang. Tidak hanya dengan Tadashi… tapi dengan Tarou dan Take juga.
I’m screw!