Aku.... Hamil, Guillam."
Bibir Peter tak sempat bertemu dengan pinggir gelas teh yang sudah ia angkat setelah mendengar perkataan Hector barusan. Mau tidak mau Peter mengembalikan cangkir tehnya ke tempat semula, lalu memandang lurus kepada Hector yang duduk dengan gesture gugup di depannya.
Hector menelan ludah kasar. Alis matanya menekuk, ekspresi wajahnya berubah tegang. "Aku sudah membuat janji dengan dokter minggu depan. Aku akan segera membereskan masalah ini." Suaranya terdengar parau saat dia mengatakan akan menuntaskan 'masalah' ini.
Peter berkedip cepat. Menelaah banyak hal di dalam benaknya,
"Kamu sebenarnya tidak ingin membunuh bayi ini, bukan?" sang mata-mata MI6 mengambil kesimpulan.
Hector berdecak kaget, secara mental memaki dalam hati karena kok Peter bisa tahu. Intuisinya tajam sekali...
"Nggak! Aku gak menginginkannya! Bayi ini akan menghalangi pekerjaanku dan juga kamu, dan tak ada satupun dari kita yang bisa merawat seorang anak. Keputusanku sudah final, minggu depan aku akan menggugurkannya." Sahut Hector.
"You're a terrible liar, Dixon. Meski kamu kejam, kamu tidak berani untuk melukai anak-anak. Matamu tak bisa membohongi, kamu tidak mau melenyapkan bayi itu. You actually care, because it is your own baby." Perkataan Peter membungkam Hector.
Tiba-tiba saja suara tercekat lelah lepas dari mulut Hector yang gemetaran, "it's ours..." Gumam sang hitman.
'Ah, itu dia. Sentimen.'
Suara di dalam kepala Peter berkata, ditutup oleh tawa sinis memekakkan. Peter berusaha menghiraukannya.
Kemudian Peter bangkit dari tempat duduknya, langsung meraup tubuh Hector kedalam pelukan. Hector menyahut kaget saat Peter melingkarkan tangan ditubuhnya, memeluknya sangat erat sekali.
Suara lembut Peter berbisik di samping telinga Hector, "Aku tak akan memaksamu untuk melakukan apa yang tidak kamu kehendaki. Kalau kamu tidak ingin melenyapkan anak itu, maka aku akan mendukung keputusanmu. We're in this together, I will take the responsibility."
"Guillam..." Hector yang ragu sesaat merasa seperti keraguannya diangkat hilang seutuhnya kala Peter mengatakan akan bertanggung jawab dan tak menyuruh Hector untuk menggugurkan kandungannya. "Terima kasih." Dia mengutarakan rasa bersyukurnya dengan memeluk Peter balik, memendam wajahnya di sela leher sang pasangan.
Peter hampir saja tersenyum lepas apabila suara hasutan di kepalanya tak terdengar lagi. 'Eh? Apa yang kamu lakukan? Bodoh, anak itu tidak bisa lahir! Apa kamu lupa kosekuensinya?! Kamu seharusnya membiarkan dia untuk membunuhnya sebelum terlambat!' Suara itu terdengar seperti suara bisikan jahat, tidak terdengar manusia sama sekali.
Peter kembali menghiraukannya dengan mengecup kening kepala Hector lalu menuntunnya duduk kembali untuk membicarakan kondisinya.
'Peter Guillam! Hentikan ini! Kamu bukan hanya akan mempermalukan dirimu sendiri melainkan kalangan kita juga! Hentikan kegilaan ini, Peter!'
Berapakalipun suara mengerikan itu berteriak meminta jangan di dalam kepala Peter, tetap saja Peter mencuekinya habis-habisan. Seakan suara itu tak pernah ada sebelumnya...
...Sisi manusia Peter menang untuk kali ini.
Peter Guillam mungkin terlihat seperti pria biasa pada umumnya. Punya pekerjaan yang stabil, rumah, mobil, dan pasangan. Dia juga nampak biasa dengan potongan rambut model pendek berponi, mata biru cerah yang kontras dengan rambut pirang gelapnya, tinggi semampai, dan kondisi badan yang fit.
Yang tak diketahui oleh orang lain adalah, kalau Peter merupakan seorang Demon. Ya, iblis. Setan. Entah apalagi bahasa lainnya.
Kalangan iblis memang sering kali menyusup diantara manusia, menyamar sebagai salah satunya. Berjalan menggunakan kulit palsu yang seratus persen tidak bisa dibedakan dengan manusia asli. Banyak alasan kenapa para Iblis ini memilih berjalan berdampingan bersama manusia, ada yang ingin menganggu manusia secara lebih dekat, mendapatkan kekayaan haram, memuaskan hasrat birahi, memperbudak manusia, dan lain-lain.
Nah, alasan utama Peter ialah untuk memuaskan hasrat seksualnya.
Entah sudah berapa banyak orang yang menjadi korban Peter, dipakai secara seenaknya oleh sang Iblis seperti barang yang kalau rusak akan dibuang begitu saja... Peter tidak perduli dengan yang namanya perasaan selama dia mendapatkan apa yang ia mau. Harta, kekuasaan, kedudukan, dan seks.
Semua berubah ketika ia iseng mencoba pekerjaan sebagai MI6. Disanalah Peter belajar memahami manusia, yang akhirnya menumbuhkan perasaan sentimen/manusiawi di dalam dirinya. Sifat jahat yang Peter ketahui melekat di dalam hatinya berusaha ia dorong mati-matian, karena hidup bersama manusia telah membuatnya terlena dan Peter sering kali lupa kalau ia adalah seorang Iblis yang dalam segi apapun jauh lebih baik dari manusia.
Dan semua itu diperparah dengan kedatangan Hector Dixon.
Iblis tidak seharusnya jatuh cinta, apalagi kepada manusia biasa. Itu adalah hal yang tabu dan memalukan.
Apalagi Peter secara tidak sengaja menghamilinya sekarang.
Menjadikan anak yang dikandung Hector merupakan campuran dari manusia dan juga... Iblis. Yang entah bentuknya seperti apa, karena kejadian ini belum pernah terjadi sebelumnya.
Logikanya, Peter akan mengenyahkan anak itu karena menganggu kestabilan kaum mereka. Kalau anak itu lahir, banyak masalah yang akan timbul; seperti dia memiliki kekuatan melebihi manusia normal atau trait bawaan yang jahat. Pasti juga banyak iblis lain yang merendahkannya karena dia merupakan seorang Halfling, setengah manusia dan setengah iblis.
Karena itulah...
'Ini sudah memasuki bulan ke-5, Guillam.'
Suara menghenyakan itu berkata, terdengar muak. Peter mengangkat sebelah alisnya, untung dia sedang berada sendirian di dalam ruangan kerjanya. Jadi dia bisa lebih leluasa berkomunikasi dengan sisi iblisnya tersebut.
'Dan kamu belum juga mengenyahkan janin itu...'
Decakan kesal lepas dari mulut Peter. Lagi-lagi itu yang dibicarakan, tidakkah dia mengerti kalau Peter sudah tidak ingin mendengarkannya lagi?
'Jangan kamu cueki aku, brengsek. Kamu tidak bisa melupakan siapa dirimu yang sebenarnya. Kamu berharap bisa hidup normal bersama dengan kekasih kecilmu itu, iya? Dan mungkin bersama anak kalian nanti? Naif sekali, Guillam! Kamu itu Iblis, dan Iblis tidak seharusnya lemah seperti dirimu!'
BRAK!!
Tiba-tiba saja Peter melempar tempat pena yang ada diatas meja kerjanya ke dinding. Pena-pena mahal jatuh berhamburan ke lantai, isi tinta mereka mengujrat pecah mengotori dinding dan lantai dibawahnya. Suasana jadi hening sesaat.
"Diam," Peter menggeram kesal. Pandangan matanya memicing bahaya. "Berhenti mengangguku. Ini adalah keinginanku, biarkan aku menjalaninya sendiri. Kamu tidak punya hak untuk menghentikanku." Sergahnya.
Mendengar Peter yang membangkang balik, suara itu menaikan intonasi nadanya. Membuatnya terdengar lebih menakutkan, 'Aku tidak punya hak, katamu!? Aku adalah kamu, dan kamu adalah aku. Kamu tidak bisa mengenyahkan diriku karena kita adalah SATU. Kita bukanlah manusia. Kita jauh lebih baik dari makhluk menjijikan itu!' Teriaknya.
Sebelum dia bisa berteriak lebih lanjut, pintu ruang kerja Peter terbuka.
"Peter? Apa yang terjadi?" Tanya Hector yang muncul dari balik pintu kayu rumah mereka. Sebelah tangan memegang protektif perutnya yang kian hari membesar sesuai dengan pertumbuhan janin di rahimnya. Mata Peter berubah sayu saat melihat perutnya Hector.
"Ah, tidak ada apa-apa, dear." Jawab Peter yang langsung bangkit dari tempatnya dan segera membereskan kekacauan yang sudah ia buat. "Aku... Tidak sengaja, aku tadi...."
Gak perlu dikatakan sepenuhnya Hector sudah tahu apa yang terjadi. Peter memang punya temperamen bertipe 'diam' namun sekalinya dia lepas, seluruh emosinya bakalan keluar. Tapi selama ini Peter belum pernah menjeplak langsung ke Hector. Jangankan ngomong kencang, berkata kasarpun tidak.
Hector melihat Peter berjongkok untuk membereskan pena dan tinta yang berhamburan, "Biar aku bantu." Dia tadinya mau ikut duduk membantu Peter,
"Tidak usah!" Peter sedikit menyahut. Menahan tangan Hector yang mau menyentuhnya. "Nanti kamu kecapekan, kasihan bayi kita." Katanya, terdengar sangat protektif.
Hector berkedip beberapa kali sebelum dumelan kecil lepas dari mulutnya. "Aku itu hamil, bukannya lemah; you fuck."
Toh meski kesal karena Peter memperlakukannya bak orang invalid selama hamil, Hector nurut saja tuh buktinya. Dia akhirnya cuman berdiri ngeliatin pasangannya itu ngebersihin semuanya.
Sebelum pergi keluar ruangan sambil ngebawa sampah, Peter sempet-sempetnya aja mencium kening kepala Hector. "Iya aku tahu kok kamu gak lemah, cuman aku tetap saja khawatir sama kamu. Dokter bilang kamu masih mengalami anemia, kan?" Kata Peter.
"Aku tahu, aku tahu... Aku harus mengingat keadaanku sendiri..." Sergah Hector.
'Hem. Lihat, belum lahir saja anak terkutukmu itu sudah dimanjakan dengan darah manusia. Terus-terusan mengambil darah Hector-tercintamu itu laksana parasit. Aku bisa memaafkanmu untuk mencintai Hector, tetapi ini? Tidak akan pernah. Kamu sudah membuatku malu.'
Suara itu kembali lagi.
Peter menahan dirinya buat tak menyahut balik, takut membuat Hector yang berada dalam satu ruangan curiga.
Sesungguhnya Peter takut dia tidak bisa menahan sisi gelapnya itu lebih lama. Karena setiap hari dia berubah semakin ganas, ingin mengambil alih tubuh Peter seutuhnya dan entah akan melakukan apa kepada Hector dan bayi mereka yang sangat ia benci...
Dan pada satu hari yang malang, Peter kehilangan kemanusiaannya.
"Loh? Aku kira kamu sudah berangkat kerja?"
Hector bersuara bingung melihat Peter yang berpakaian rapih tiba-tiba saja sudah berdiri di belakangnya. Seingat Hector, Peter seharusnya sudah pergi kerja 30 menit yang lalu... Kok dia malah kembali ke rumah? Apakah ada barang yang ketinggalan?
"Hector..." Kedua mata P
結果 (
日本語) 1:
[コピー]コピーしました!
Aku.... Hamil, Guillam." Bibir Peter tak sempat bertemu dengan pinggir gelas teh yang sudah ia angkat setelah mendengar perkataan Hector barusan. Mau tidak mau Peter mengembalikan cangkir tehnya ke tempat semula, lalu memandang lurus kepada Hector yang duduk dengan gesture gugup di depannya. Hector menelan ludah kasar. Alis matanya menekuk, ekspresi wajahnya berubah tegang. "Aku sudah membuat janji dengan dokter minggu depan. Aku akan segera membereskan masalah ini." Suaranya terdengar parau saat dia mengatakan akan menuntaskan 'masalah' ini. Peter berkedip cepat. Menelaah banyak hal di dalam benaknya, "Kamu sebenarnya tidak ingin membunuh bayi ini, bukan?" sang mata-mata MI6 mengambil kesimpulan. Hector berdecak kaget, secara mental memaki dalam hati karena kok Peter bisa tahu. Intuisinya tajam sekali... "Nggak! Aku gak menginginkannya! Bayi ini akan menghalangi pekerjaanku dan juga kamu, dan tak ada satupun dari kita yang bisa merawat seorang anak. Keputusanku sudah final, minggu depan aku akan menggugurkannya." Sahut Hector. "You're a terrible liar, Dixon. Meski kamu kejam, kamu tidak berani untuk melukai anak-anak. Matamu tak bisa membohongi, kamu tidak mau melenyapkan bayi itu. You actually care, because it is your own baby." Perkataan Peter membungkam Hector. Tiba-tiba saja suara tercekat lelah lepas dari mulut Hector yang gemetaran, "it's ours..." Gumam sang hitman. 'Ah, itu dia. Sentimen.' Suara di dalam kepala Peter berkata, ditutup oleh tawa sinis memekakkan. Peter berusaha menghiraukannya. Kemudian Peter bangkit dari tempat duduknya, langsung meraup tubuh Hector kedalam pelukan. Hector menyahut kaget saat Peter melingkarkan tangan ditubuhnya, memeluknya sangat erat sekali. Suara lembut Peter berbisik di samping telinga Hector, "Aku tak akan memaksamu untuk melakukan apa yang tidak kamu kehendaki. Kalau kamu tidak ingin melenyapkan anak itu, maka aku akan mendukung keputusanmu. We're in this together, I will take the responsibility." "Guillam..." Hector yang ragu sesaat merasa seperti keraguannya diangkat hilang seutuhnya kala Peter mengatakan akan bertanggung jawab dan tak menyuruh Hector untuk menggugurkan kandungannya. "Terima kasih." Dia mengutarakan rasa bersyukurnya dengan memeluk Peter balik, memendam wajahnya di sela leher sang pasangan. Peter hampir saja tersenyum lepas apabila suara hasutan di kepalanya tak terdengar lagi. 'Eh? Apa yang kamu lakukan? Bodoh, anak itu tidak bisa lahir! Apa kamu lupa kosekuensinya?! Kamu seharusnya membiarkan dia untuk membunuhnya sebelum terlambat!' Suara itu terdengar seperti suara bisikan jahat, tidak terdengar manusia sama sekali. Peter kembali menghiraukannya dengan mengecup kening kepala Hector lalu menuntunnya duduk kembali untuk membicarakan kondisinya. 'Peter Guillam! Hentikan ini! Kamu bukan hanya akan mempermalukan dirimu sendiri melainkan kalangan kita juga! Hentikan kegilaan ini, Peter!' Berapakalipun suara mengerikan itu berteriak meminta jangan di dalam kepala Peter, tetap saja Peter mencuekinya habis-habisan. Seakan suara itu tak pernah ada sebelumnya... ...Sisi manusia Peter menang untuk kali ini. Peter Guillam mungkin terlihat seperti pria biasa pada umumnya. Punya pekerjaan yang stabil, rumah, mobil, dan pasangan. Dia juga nampak biasa dengan potongan rambut model pendek berponi, mata biru cerah yang kontras dengan rambut pirang gelapnya, tinggi semampai, dan kondisi badan yang fit. Yang tak diketahui oleh orang lain adalah, kalau Peter merupakan seorang Demon. Ya, iblis. Setan. Entah apalagi bahasa lainnya. Kalangan iblis memang sering kali menyusup diantara manusia, menyamar sebagai salah satunya. Berjalan menggunakan kulit palsu yang seratus persen tidak bisa dibedakan dengan manusia asli. Banyak alasan kenapa para Iblis ini memilih berjalan berdampingan bersama manusia, ada yang ingin menganggu manusia secara lebih dekat, mendapatkan kekayaan haram, memuaskan hasrat birahi, memperbudak manusia, dan lain-lain. Nah, alasan utama Peter ialah untuk memuaskan hasrat seksualnya. Entah sudah berapa banyak orang yang menjadi korban Peter, dipakai secara seenaknya oleh sang Iblis seperti barang yang kalau rusak akan dibuang begitu saja... Peter tidak perduli dengan yang namanya perasaan selama dia mendapatkan apa yang ia mau. Harta, kekuasaan, kedudukan, dan seks. Semua berubah ketika ia iseng mencoba pekerjaan sebagai MI6. Disanalah Peter belajar memahami manusia, yang akhirnya menumbuhkan perasaan sentimen/manusiawi di dalam dirinya. Sifat jahat yang Peter ketahui melekat di dalam hatinya berusaha ia dorong mati-matian, karena hidup bersama manusia telah membuatnya terlena dan Peter sering kali lupa kalau ia adalah seorang Iblis yang dalam segi apapun jauh lebih baik dari manusia. Dan semua itu diperparah dengan kedatangan Hector Dixon. Iblis tidak seharusnya jatuh cinta, apalagi kepada manusia biasa. Itu adalah hal yang tabu dan memalukan. Apalagi Peter secara tidak sengaja menghamilinya sekarang. Menjadikan anak yang dikandung Hector merupakan campuran dari manusia dan juga... Iblis. Yang entah bentuknya seperti apa, karena kejadian ini belum pernah terjadi sebelumnya. Logikanya, Peter akan mengenyahkan anak itu karena menganggu kestabilan kaum mereka. Kalau anak itu lahir, banyak masalah yang akan timbul; seperti dia memiliki kekuatan melebihi manusia normal atau trait bawaan yang jahat. Pasti juga banyak iblis lain yang merendahkannya karena dia merupakan seorang Halfling, setengah manusia dan setengah iblis. Karena itulah... 'Ini sudah memasuki bulan ke-5, Guillam.' Suara menghenyakan itu berkata, terdengar muak. Peter mengangkat sebelah alisnya, untung dia sedang berada sendirian di dalam ruangan kerjanya. Jadi dia bisa lebih leluasa berkomunikasi dengan sisi iblisnya tersebut. 'Dan kamu belum juga mengenyahkan janin itu...' Decakan kesal lepas dari mulut Peter. Lagi-lagi itu yang dibicarakan, tidakkah dia mengerti kalau Peter sudah tidak ingin mendengarkannya lagi? 'Jangan kamu cueki aku, brengsek. Kamu tidak bisa melupakan siapa dirimu yang sebenarnya. Kamu berharap bisa hidup normal bersama dengan kekasih kecilmu itu, iya? Dan mungkin bersama anak kalian nanti? Naif sekali, Guillam! Kamu itu Iblis, dan Iblis tidak seharusnya lemah seperti dirimu!' BRAK!! Tiba-tiba saja Peter melempar tempat pena yang ada diatas meja kerjanya ke dinding. Pena-pena mahal jatuh berhamburan ke lantai, isi tinta mereka mengujrat pecah mengotori dinding dan lantai dibawahnya. Suasana jadi hening sesaat. "Diam," Peter menggeram kesal. Pandangan matanya memicing bahaya. "Berhenti mengangguku. Ini adalah keinginanku, biarkan aku menjalaninya sendiri. Kamu tidak punya hak untuk menghentikanku." Sergahnya. Mendengar Peter yang membangkang balik, suara itu menaikan intonasi nadanya. Membuatnya terdengar lebih menakutkan, 'Aku tidak punya hak, katamu!? Aku adalah kamu, dan kamu adalah aku. Kamu tidak bisa mengenyahkan diriku karena kita adalah SATU. Kita bukanlah manusia. Kita jauh lebih baik dari makhluk menjijikan itu!' Teriaknya. Sebelum dia bisa berteriak lebih lanjut, pintu ruang kerja Peter terbuka. "Peter? Apa yang terjadi?" Tanya Hector yang muncul dari balik pintu kayu rumah mereka. Sebelah tangan memegang protektif perutnya yang kian hari membesar sesuai dengan pertumbuhan janin di rahimnya. Mata Peter berubah sayu saat melihat perutnya Hector. "Ah, tidak ada apa-apa, dear." Jawab Peter yang langsung bangkit dari tempatnya dan segera membereskan kekacauan yang sudah ia buat. "Aku... Tidak sengaja, aku tadi...." Gak perlu dikatakan sepenuhnya Hector sudah tahu apa yang terjadi. Peter memang punya temperamen bertipe 'diam' namun sekalinya dia lepas, seluruh emosinya bakalan keluar. Tapi selama ini Peter belum pernah menjeplak langsung ke Hector. Jangankan ngomong kencang, berkata kasarpun tidak. Hector melihat Peter berjongkok untuk membereskan pena dan tinta yang berhamburan, "Biar aku bantu." Dia tadinya mau ikut duduk membantu Peter, "Tidak usah!" Peter sedikit menyahut. Menahan tangan Hector yang mau menyentuhnya. "Nanti kamu kecapekan, kasihan bayi kita." Katanya, terdengar sangat protektif. Hector berkedip beberapa kali sebelum dumelan kecil lepas dari mulutnya. "Aku itu hamil, bukannya lemah; you fuck." Toh meski kesal karena Peter memperlakukannya bak orang invalid selama hamil, Hector nurut saja tuh buktinya. Dia akhirnya cuman berdiri ngeliatin pasangannya itu ngebersihin semuanya. Sebelum pergi keluar ruangan sambil ngebawa sampah, Peter sempet-sempetnya aja mencium kening kepala Hector. "Iya aku tahu kok kamu gak lemah, cuman aku tetap saja khawatir sama kamu. Dokter bilang kamu masih mengalami anemia, kan?" Kata Peter. "Aku tahu, aku tahu... Aku harus mengingat keadaanku sendiri..." Sergah Hector. 'Hem. Lihat, belum lahir saja anak terkutukmu itu sudah dimanjakan dengan darah manusia. Terus-terusan mengambil darah Hector-tercintamu itu laksana parasit. Aku bisa memaafkanmu untuk mencintai Hector, tetapi ini? Tidak akan pernah. Kamu sudah membuatku malu.' Suara itu kembali lagi. Peter menahan dirinya buat tak menyahut balik, takut membuat Hector yang berada dalam satu ruangan curiga. Sesungguhnya Peter takut dia tidak bisa menahan sisi gelapnya itu lebih lama. Karena setiap hari dia berubah semakin ganas, ingin mengambil alih tubuh Peter seutuhnya dan entah akan melakukan apa kepada Hector dan bayi mereka yang sangat ia benci... Dan pada satu hari yang malang, Peter kehilangan kemanusiaannya. "Loh? Aku kira kamu sudah berangkat kerja?" Hector bersuara bingung melihat Peter yang berpakaian rapih tiba-tiba saja sudah berdiri di belakangnya. Seingat Hector, Peter seharusnya sudah pergi kerja 30 menit yang lalu... Kok dia malah kembali ke rumah? Apakah ada barang yang ketinggalan? "Hector..." Kedua mata P
翻訳されて、しばらくお待ちください..

Aku.... Hamil, Guillam."
Bibir Peter tak sempat bertemu dengan pinggir gelas teh yang sudah ia angkat setelah mendengar perkataan Hector barusan. Mau tidak mau Peter mengembalikan cangkir tehnya ke tempat semula, lalu memandang lurus kepada Hector yang duduk dengan gesture gugup di depannya.
Hector menelan ludah kasar. Alis matanya menekuk, ekspresi wajahnya berubah tegang. "Aku sudah membuat janji dengan dokter minggu depan. Aku akan segera membereskan masalah ini." Suaranya terdengar parau saat dia mengatakan akan menuntaskan 'masalah' ini.
Peter berkedip cepat. Menelaah banyak hal di dalam benaknya,
"Kamu sebenarnya tidak ingin membunuh bayi ini, bukan?" sang mata-mata MI6 mengambil kesimpulan.
Hector berdecak kaget, secara mental memaki dalam hati karena kok Peter bisa tahu. Intuisinya tajam sekali...
"Nggak! Aku gak menginginkannya! Bayi ini akan menghalangi pekerjaanku dan juga kamu, dan tak ada satupun dari kita yang bisa merawat seorang anak. Keputusanku sudah final, minggu depan aku akan menggugurkannya." Sahut Hector.
"You're a terrible liar, Dixon. Meski kamu kejam, kamu tidak berani untuk melukai anak-anak. Matamu tak bisa membohongi, kamu tidak mau melenyapkan bayi itu. You actually care, because it is your own baby." Perkataan Peter membungkam Hector.
Tiba-tiba saja suara tercekat lelah lepas dari mulut Hector yang gemetaran, "it's ours..." Gumam sang hitman.
'Ah, itu dia. Sentimen.'
Suara di dalam kepala Peter berkata, ditutup oleh tawa sinis memekakkan. Peter berusaha menghiraukannya.
Kemudian Peter bangkit dari tempat duduknya, langsung meraup tubuh Hector kedalam pelukan. Hector menyahut kaget saat Peter melingkarkan tangan ditubuhnya, memeluknya sangat erat sekali.
Suara lembut Peter berbisik di samping telinga Hector, "Aku tak akan memaksamu untuk melakukan apa yang tidak kamu kehendaki. Kalau kamu tidak ingin melenyapkan anak itu, maka aku akan mendukung keputusanmu. We're in this together, I will take the responsibility."
"Guillam..." Hector yang ragu sesaat merasa seperti keraguannya diangkat hilang seutuhnya kala Peter mengatakan akan bertanggung jawab dan tak menyuruh Hector untuk menggugurkan kandungannya. "Terima kasih." Dia mengutarakan rasa bersyukurnya dengan memeluk Peter balik, memendam wajahnya di sela leher sang pasangan.
Peter hampir saja tersenyum lepas apabila suara hasutan di kepalanya tak terdengar lagi. 'Eh? Apa yang kamu lakukan? Bodoh, anak itu tidak bisa lahir! Apa kamu lupa kosekuensinya?! Kamu seharusnya membiarkan dia untuk membunuhnya sebelum terlambat!' Suara itu terdengar seperti suara bisikan jahat, tidak terdengar manusia sama sekali.
Peter kembali menghiraukannya dengan mengecup kening kepala Hector lalu menuntunnya duduk kembali untuk membicarakan kondisinya.
'Peter Guillam! Hentikan ini! Kamu bukan hanya akan mempermalukan dirimu sendiri melainkan kalangan kita juga! Hentikan kegilaan ini, Peter!'
Berapakalipun suara mengerikan itu berteriak meminta jangan di dalam kepala Peter, tetap saja Peter mencuekinya habis-habisan. Seakan suara itu tak pernah ada sebelumnya...
...Sisi manusia Peter menang untuk kali ini.
Peter Guillam mungkin terlihat seperti pria biasa pada umumnya. Punya pekerjaan yang stabil, rumah, mobil, dan pasangan. Dia juga nampak biasa dengan potongan rambut model pendek berponi, mata biru cerah yang kontras dengan rambut pirang gelapnya, tinggi semampai, dan kondisi badan yang fit.
Yang tak diketahui oleh orang lain adalah, kalau Peter merupakan seorang Demon. Ya, iblis. Setan. Entah apalagi bahasa lainnya.
Kalangan iblis memang sering kali menyusup diantara manusia, menyamar sebagai salah satunya. Berjalan menggunakan kulit palsu yang seratus persen tidak bisa dibedakan dengan manusia asli. Banyak alasan kenapa para Iblis ini memilih berjalan berdampingan bersama manusia, ada yang ingin menganggu manusia secara lebih dekat, mendapatkan kekayaan haram, memuaskan hasrat birahi, memperbudak manusia, dan lain-lain.
Nah, alasan utama Peter ialah untuk memuaskan hasrat seksualnya.
Entah sudah berapa banyak orang yang menjadi korban Peter, dipakai secara seenaknya oleh sang Iblis seperti barang yang kalau rusak akan dibuang begitu saja... Peter tidak perduli dengan yang namanya perasaan selama dia mendapatkan apa yang ia mau. Harta, kekuasaan, kedudukan, dan seks.
Semua berubah ketika ia iseng mencoba pekerjaan sebagai MI6. Disanalah Peter belajar memahami manusia, yang akhirnya menumbuhkan perasaan sentimen/manusiawi di dalam dirinya. Sifat jahat yang Peter ketahui melekat di dalam hatinya berusaha ia dorong mati-matian, karena hidup bersama manusia telah membuatnya terlena dan Peter sering kali lupa kalau ia adalah seorang Iblis yang dalam segi apapun jauh lebih baik dari manusia.
Dan semua itu diperparah dengan kedatangan Hector Dixon.
Iblis tidak seharusnya jatuh cinta, apalagi kepada manusia biasa. Itu adalah hal yang tabu dan memalukan.
Apalagi Peter secara tidak sengaja menghamilinya sekarang.
Menjadikan anak yang dikandung Hector merupakan campuran dari manusia dan juga... Iblis. Yang entah bentuknya seperti apa, karena kejadian ini belum pernah terjadi sebelumnya.
Logikanya, Peter akan mengenyahkan anak itu karena menganggu kestabilan kaum mereka. Kalau anak itu lahir, banyak masalah yang akan timbul; seperti dia memiliki kekuatan melebihi manusia normal atau trait bawaan yang jahat. Pasti juga banyak iblis lain yang merendahkannya karena dia merupakan seorang Halfling, setengah manusia dan setengah iblis.
Karena itulah...
'Ini sudah memasuki bulan ke-5, Guillam.'
Suara menghenyakan itu berkata, terdengar muak. Peter mengangkat sebelah alisnya, untung dia sedang berada sendirian di dalam ruangan kerjanya. Jadi dia bisa lebih leluasa berkomunikasi dengan sisi iblisnya tersebut.
'Dan kamu belum juga mengenyahkan janin itu...'
Decakan kesal lepas dari mulut Peter. Lagi-lagi itu yang dibicarakan, tidakkah dia mengerti kalau Peter sudah tidak ingin mendengarkannya lagi?
'Jangan kamu cueki aku, brengsek. Kamu tidak bisa melupakan siapa dirimu yang sebenarnya. Kamu berharap bisa hidup normal bersama dengan kekasih kecilmu itu, iya? Dan mungkin bersama anak kalian nanti? Naif sekali, Guillam! Kamu itu Iblis, dan Iblis tidak seharusnya lemah seperti dirimu!'
BRAK!!
Tiba-tiba saja Peter melempar tempat pena yang ada diatas meja kerjanya ke dinding. Pena-pena mahal jatuh berhamburan ke lantai, isi tinta mereka mengujrat pecah mengotori dinding dan lantai dibawahnya. Suasana jadi hening sesaat.
"Diam," Peter menggeram kesal. Pandangan matanya memicing bahaya. "Berhenti mengangguku. Ini adalah keinginanku, biarkan aku menjalaninya sendiri. Kamu tidak punya hak untuk menghentikanku." Sergahnya.
Mendengar Peter yang membangkang balik, suara itu menaikan intonasi nadanya. Membuatnya terdengar lebih menakutkan, 'Aku tidak punya hak, katamu!? Aku adalah kamu, dan kamu adalah aku. Kamu tidak bisa mengenyahkan diriku karena kita adalah SATU. Kita bukanlah manusia. Kita jauh lebih baik dari makhluk menjijikan itu!' Teriaknya.
Sebelum dia bisa berteriak lebih lanjut, pintu ruang kerja Peter terbuka.
"Peter? Apa yang terjadi?" Tanya Hector yang muncul dari balik pintu kayu rumah mereka. Sebelah tangan memegang protektif perutnya yang kian hari membesar sesuai dengan pertumbuhan janin di rahimnya. Mata Peter berubah sayu saat melihat perutnya Hector.
"Ah, tidak ada apa-apa, dear." Jawab Peter yang langsung bangkit dari tempatnya dan segera membereskan kekacauan yang sudah ia buat. "Aku... Tidak sengaja, aku tadi...."
Gak perlu dikatakan sepenuhnya Hector sudah tahu apa yang terjadi. Peter memang punya temperamen bertipe 'diam' namun sekalinya dia lepas, seluruh emosinya bakalan keluar. Tapi selama ini Peter belum pernah menjeplak langsung ke Hector. Jangankan ngomong kencang, berkata kasarpun tidak.
Hector melihat Peter berjongkok untuk membereskan pena dan tinta yang berhamburan, "Biar aku bantu." Dia tadinya mau ikut duduk membantu Peter,
"Tidak usah!" Peter sedikit menyahut. Menahan tangan Hector yang mau menyentuhnya. "Nanti kamu kecapekan, kasihan bayi kita." Katanya, terdengar sangat protektif.
Hector berkedip beberapa kali sebelum dumelan kecil lepas dari mulutnya. "Aku itu hamil, bukannya lemah; you fuck."
Toh meski kesal karena Peter memperlakukannya bak orang invalid selama hamil, Hector nurut saja tuh buktinya. Dia akhirnya cuman berdiri ngeliatin pasangannya itu ngebersihin semuanya.
Sebelum pergi keluar ruangan sambil ngebawa sampah, Peter sempet-sempetnya aja mencium kening kepala Hector. "Iya aku tahu kok kamu gak lemah, cuman aku tetap saja khawatir sama kamu. Dokter bilang kamu masih mengalami anemia, kan?" Kata Peter.
"Aku tahu, aku tahu... Aku harus mengingat keadaanku sendiri..." Sergah Hector.
'Hem. Lihat, belum lahir saja anak terkutukmu itu sudah dimanjakan dengan darah manusia. Terus-terusan mengambil darah Hector-tercintamu itu laksana parasit. Aku bisa memaafkanmu untuk mencintai Hector, tetapi ini? Tidak akan pernah. Kamu sudah membuatku malu.'
Suara itu kembali lagi.
Peter menahan dirinya buat tak menyahut balik, takut membuat Hector yang berada dalam satu ruangan curiga.
Sesungguhnya Peter takut dia tidak bisa menahan sisi gelapnya itu lebih lama. Karena setiap hari dia berubah semakin ganas, ingin mengambil alih tubuh Peter seutuhnya dan entah akan melakukan apa kepada Hector dan bayi mereka yang sangat ia benci...
Dan pada satu hari yang malang, Peter kehilangan kemanusiaannya.
"Loh? Aku kira kamu sudah berangkat kerja?"
Hector bersuara bingung melihat Peter yang berpakaian rapih tiba-tiba saja sudah berdiri di belakangnya. Seingat Hector, Peter seharusnya sudah pergi kerja 30 menit yang lalu... Kok dia malah kembali ke rumah? Apakah ada barang yang ketinggalan?
"Hector..." Kedua mata P
翻訳されて、しばらくお待ちください..
