HURK----!"
Prudy hampir memasukan setengah wajahnya kedalam toilet untuk memuntahkan kembali isi perutnya. Yang baru saja diisi teh dan biskuit, satu-satunya makanan yang baru dia makan sepanjang hari.
"There, there, sini Daddy pegang rambutmu biar tidak kotor." Hector duduk jongkok di samping puterinya yang tahun ini berumur 24 tahun tersebut. Rambut panjang miliknya di ikat menyamping bahu oleh Hector, dia cuman bisa melakukan itu untuk membantu Prudy. Selebihnya ya... Well, gak bisa.
"God fucking dammit-- I can't. I fucking can't anymore..." Prudy mengangkat wajahnya. Bulir air mata ikut jatuh dari matanya karena dia tak terbiasa memuntahkan makanannya, sehingga muntah terasa sangat menyakitkan bagi dirinya.
Kehamilan ini menyiksa Prudy. Hamish yang sedang pergi keluar kota untuk bertugas juga tidak membantunya, suaminya untuk 5 tahun itu dipaksa ikut oleh tim-nya untuk membantu mereka mengatasi kasus pembunuhan berantai di kota sebelah. Yah maklum sih, Hamish Watson-Holmes, profiler kriminal terkenal seantero Inggris.
Hector membantu Prudy berdiri dari tempatnya duduk merana, menuntun si anak gadis keluar kamar mandi menuju kamar tidurnya. Atau kamar yang dulu ia tempati sampai masa remajanya, sekarang Prudy nginep balik ke rumah kedua orang tuanya selama Hamish pergi keluar kota.
"Rebahan dulu gih. Jangan banyak bergerak, nanti mual lagi." Hector menasehati sambil menyelimuti Prudy. Rasanya jadi kayak ngurusin Prudy yang balik kecil, Hector diam-diam seneng sendiri jadinya. Ia kemudian duduk di pinggir tempat tidur, kepala Prudy yang lagi rebahan berdesakan sama pinggang Hector.
Prudy menggeram kesal. Wajah terbenam di bantal kepala, "I am so done. Kenapa aku harus hamil sekarang, sih? Benar-benar waktu yang tidak tepat... Pekerjaanku, Hamish, dan semuanya... God, aku merana."
"Ah, akhirnya kamu bisa merasakan penderitaanku 24 tahun yang lalu, nak. Hamil denganmu jauh lebih parah kondisinya dari ini." Hector malah mencandainya.
Prudy yang kesel memukul pelan kaki Hector. "Apa maksudmu kalau hamil denganku kondisinya jauh lebih parah?" Tanya Prudy, suara agaknya masih parau.
Hector mengambil nafas terlebih dahulu sebelum menceritakan penderitaannya saat hamil dengan Prudy, "Well first of all, you are annoying little shit. Aku tidak bisa makan apapun sepanjang 3 bulan pertama, sampai harus diberi cairan infus dan obat anti-mual. Semua itu menyebabkanku tidak bisa menuntaskan pekerjaan yang sudah terlanjur aku ambil dan harus menyuruh Fabian untuk mengerjakannya."
Prudy mendengarkan secara seksama cerita ayahnya meski dia sendiri ngerasa gondok karena yang lagi diomongin (salah, di keluhkan) adalah dirinya sendiri.
"Dan itu belum semua, baru di awal saja," lanjut Hector. "Belum lagi keram di semua badan dan kepala pusing. God, you're such a handful baby too. Ketika kamu mulai bisa bergerak, kamu kadang bergerak non-stop sampai beberapa menit. It's really annoying karena aku tidak bisa konsentrasi mengerjakan apapun kalau kamu sudah mulai menggerakan tangan atau kaki."
"....Yaudah sih ya, aku juga tahu aku ngerepotin sejak dulu. Gak usah dibilang kalau aku sudah ngerepotin sejak masih dalam kandungan juga lah." Prudy malah ngambek. Dia memutar posisi tidurnya jadi membelakangi Hector. Rambut panjangnya terurai di atas bantal dan selimut.
Ngeliat Prudy ngambek, membuat Hector tertawa kecil. Memang banyak keluhan yang di alami oleh orang hamil, tetapi ada satu hal yang membuat mereka menjalani semua itu dengan suka cita...
"Meskipun begitu..."
Hector perlahan menyisir rambut panjang Prudy menggunakan tangan, menaikannya sedikit buat mencium surai pirang terang yang merupakan keturunan dari Peter. Prudy tak bergidik ketika Hector melakukan itu, justeru dia merasa lebih tenang. Segala bentuk sentuhan dari Hector mampu menenangkan Prudy.
"Melihatmu lahir sehat dan selamat membuat semuanya sebanding. Aku dan Peter sama-sama menangis seperti orang tolol saat melihatmu untuk pertama kalinya... Anak kami berdua, yang cantik dan menawan." ucap Hector yang sekarang menurunkan kepalanya untuk mencium kening Prudy.
"...Daddy..." Prudy bisa merasakan sentimen kental dalam perkataan Hector, dan itu mengejutkannya. Karena kedua ayahnya bukan tipe orang yang gampang mendeskripsikan perasaan mereka secara baik. "A-Apa menurutmu aku dan Hamish bisa... Menjadi... Orang tua yang baik?" Tiba-tiba saja dia dilanda kekhawatiran mendadak.
Lagi-lagi Hector dibuat tertawa oleh omongan nyeleneh anak tunggalnya ini, "Bicara apa kamu, you're going to be a great parent and so does Hamish. Hanya saja saranku sih jangan biarkan anak kalian nanti deket-deket sama Sherlock dan keluarganya. Kecuali sama John, of course." Pas ngomongin Sherlock, mukanya Hector berubah jengkel.
"Seriously? Kamu itu punya masalah apa sih sama Sherlock, Daddy? Dia orang yang baik kok," Prudy tadinya mau ngebelain Sherlock, hitung-hitung sebagai menantu yang baik; tapi cepet dia sadar, "Well dia emang nyebelin sih pada awalnya tapi he's okay now. Ingat tidak, Sherlock memberikan cincin peninggalan ibunya untuk digunakan pada pernikahan kami?" Untuk menekan maksudnya, Prudy memamerkan cincin putih emas yang melingkar di jari manis sebelah kirinya. Cincin pernikahannya dengan Hamish, yang selalu Prudy pamerkan ke semua orang sampai detik ini.
Hector tak kuasa memutar kedua matanya gegara komen Prudy soal Sherlock. Anaknya gak ngertiin perasaannya banget sih, Hector itu gak begitu suka sama Sherlock karena detektif itu ngejengkelin banget. Lebih nyebelin daripada Peter, malah?! Bagi Hector gak boleh ada orang lain yang lebih nyebelin dari Peter dan Prudy! Bawaannya pengen nonjok Sherlock kalau mereka ketemu tiap kali mengadakan makan malam keluarga...
Yang pasti selalu di netralisir sama John. Ah, John. Hector suka banget sama John, mereka selayaknya saudara jauh yang ketemu kembali saat Hector dan Peter mendatangi keluarga Holmes untuk membicarakan soal pernikahan anak-anak mereka. Jadi inget waktu itu Prudy dan Hamish duduk berduaan dalam posisi kaku gak berani ngeliat satu sama lain saking malunya ngeliat kedua orang tua mereka pada akhirnya bertemu juga dan atmosfir keadaan mendadak berubah drastis... Lebih... Gelap, gitu. Yah sampai dicapai kesepakatan soal tanggal pernikahan, sih.
"But anyways, mari lupakan soal si bego Sherlock. Sekarang yang penting adalah kamu," Hector segera mengembalikan topik pembicaraan mereka kembali pada semula. "Dad mau beberes buat makan malam. Kamu harus memaksakan dirimu untuk makan, ngerti?" Perintah Hector.
Prudy segera menggeram dibawah nafasnya. Dia mulai menggerutu, "Bagian mana dari 'Aku mual setengah mati dan aku rasa kalau aku memasukan sesuatu kedalam perut aku akan memuntahkannya lagi' yang tak kau mengerti, Daddy??"
"Heh, kamu harus bisa memakan sesuatu. Think about your baby now. Kekurangan nutrisi bisa membuat kalian berdua tidak fit, mengerti?" Hector menggeram balik ke Prudy.
Mendengar ancaman kalau bayinya bisa kenapa-kenapa akibat kekurangan nutrisi, Prudy ngalah. Benar kata ayahnya, ia harus memikirkan tentang si bayi juga sekarang...
Prudy menatap Hector yang sudah bangkit dari atas tempat tidur dan dalam setengah perjalanan menuju pintu keluar, "Aku tahu. Maafkan aku, aku akan mencoba untuk makan..." Tanpa sadar Prudy dibawah selimut mengusap-usap perutnya yang tertutupi oleh sweater abu-abu. Belum terlihat jelas bukti dari kehamilannya, tapi si janin itu ada. Hidup tenang di dalam rahimnya.
"There's a good girl," Hector melirik kebelakang pundaknya sedikit sambil menyeringai. Dia terhenti pas di figura pintu untul melanjutkan perkataannya; "Istirahat sekarang, dearest. Daddy loves you."
"I love you more, Daddy. Thanks."
Prudy membalas cepat ucapan Hector sebelum pria itu pergi meninggalkannya di dalam kamar sendirian. Lalu Prudy sadar kalau seharian ia belum mengecek ponselnya yang ia geletakan begitu saja di meja samping tempat tidur. Maka bergerak keluarlah tangan Prudy dari dalam selimut untuk meraih ponselnya,
"What the hell..." Dia gak sengaja berkomentar pas ngeliat ada banyak pesan baru menumpuk dan 12 panggilan tak terjawab. Semuanya tentu saja dari Hamish.
Isi dari pesan Hamish semuanya hampir sama, yaitu menanyakan keadaan Prudy dan si bayi. Dan pesannya berubah dari omongan panjang menanyakan kenapa Prudy tak kunjung membalas pesan atau mengangkat telepon darinya, jadi Hamish meminta maaf berulang-ulang kali karena sudah meninggalkan Prudy di London.
// Hamish Watson - Holmes / 16:25
Sekali lagi maafkan aku, Prudence. Aku akan kembali secepatnya ke London untuk menemuimu. Please be well and healthy for our child. I am sorry, I love you. //
Yang bikin Prudy mau ketawa ngikik baca pesan-pesannya Hamish adalah setiap tulisan 'I love you' di akhiran kalimatnya. Damn, Hamish tidak pernah ----sekalipun--- mengatakan cinta kepada Prudy baik secara langsung atau tidak langsung. Heran kan, gimana ceritanya mereka bisa menikah terus berada dalam kondisi sekarang ini?
Akhirnya Prudy sambil cengengesan membalas begini,
// Prudence Guillam-Holmes / 16:30
You little shit. Cepat pulang, makanya. //
Tiba-tiba saja Prudy tak merasa buruk atau mual lagi. Memang suami sekaligus ayah dari bayi yang ia kandung itu lagi berada jauh darinya, tetapi komunikasi mereka tetap terjalin baik dan Hamish selalu meminta diberikan informasi tentang keadaan Prudy dan si bayi.
Juga ada Hector yang menjaganya dirumah selayaknya anak-anak lagi, dan Peter yang memonitor keadaan suami dan puterinya dari kantor.
Yeah, Prudy dikelilingi oleh orang-orang yang mencintainya.
HURK----!"
Prudy hampir memasukan setengah wajahnya kedalam toilet untuk memuntahkan kembali isi perutnya. Yang baru saja diisi teh dan biskuit, satu-satunya makanan yang baru dia makan sepanjang hari.
"There, there, sini Daddy pegang rambutmu biar tidak kotor." Hector duduk jongkok di samping puterinya yang tahun ini berumur 24 tahun tersebut. Rambut panjang miliknya di ikat menyamping bahu oleh Hector, dia cuman bisa melakukan itu untuk membantu Prudy. Selebihnya ya... Well, gak bisa.
"God fucking dammit-- I can't. I fucking can't anymore..." Prudy mengangkat wajahnya. Bulir air mata ikut jatuh dari matanya karena dia tak terbiasa memuntahkan makanannya, sehingga muntah terasa sangat menyakitkan bagi dirinya.
Kehamilan ini menyiksa Prudy. Hamish yang sedang pergi keluar kota untuk bertugas juga tidak membantunya, suaminya untuk 5 tahun itu dipaksa ikut oleh tim-nya untuk membantu mereka mengatasi kasus pembunuhan berantai di kota sebelah. Yah maklum sih, Hamish Watson-Holmes, profiler kriminal terkenal seantero Inggris.
Hector membantu Prudy berdiri dari tempatnya duduk merana, menuntun si anak gadis keluar kamar mandi menuju kamar tidurnya. Atau kamar yang dulu ia tempati sampai masa remajanya, sekarang Prudy nginep balik ke rumah kedua orang tuanya selama Hamish pergi keluar kota.
"Rebahan dulu gih. Jangan banyak bergerak, nanti mual lagi." Hector menasehati sambil menyelimuti Prudy. Rasanya jadi kayak ngurusin Prudy yang balik kecil, Hector diam-diam seneng sendiri jadinya. Ia kemudian duduk di pinggir tempat tidur, kepala Prudy yang lagi rebahan berdesakan sama pinggang Hector.
Prudy menggeram kesal. Wajah terbenam di bantal kepala, "I am so done. Kenapa aku harus hamil sekarang, sih? Benar-benar waktu yang tidak tepat... Pekerjaanku, Hamish, dan semuanya... God, aku merana."
"Ah, akhirnya kamu bisa merasakan penderitaanku 24 tahun yang lalu, nak. Hamil denganmu jauh lebih parah kondisinya dari ini." Hector malah mencandainya.
Prudy yang kesel memukul pelan kaki Hector. "Apa maksudmu kalau hamil denganku kondisinya jauh lebih parah?" Tanya Prudy, suara agaknya masih parau.
Hector mengambil nafas terlebih dahulu sebelum menceritakan penderitaannya saat hamil dengan Prudy, "Well first of all, you are annoying little shit. Aku tidak bisa makan apapun sepanjang 3 bulan pertama, sampai harus diberi cairan infus dan obat anti-mual. Semua itu menyebabkanku tidak bisa menuntaskan pekerjaan yang sudah terlanjur aku ambil dan harus menyuruh Fabian untuk mengerjakannya."
Prudy mendengarkan secara seksama cerita ayahnya meski dia sendiri ngerasa gondok karena yang lagi diomongin (salah, di keluhkan) adalah dirinya sendiri.
"Dan itu belum semua, baru di awal saja," lanjut Hector. "Belum lagi keram di semua badan dan kepala pusing. God, you're such a handful baby too. Ketika kamu mulai bisa bergerak, kamu kadang bergerak non-stop sampai beberapa menit. It's really annoying karena aku tidak bisa konsentrasi mengerjakan apapun kalau kamu sudah mulai menggerakan tangan atau kaki."
"....Yaudah sih ya, aku juga tahu aku ngerepotin sejak dulu. Gak usah dibilang kalau aku sudah ngerepotin sejak masih dalam kandungan juga lah." Prudy malah ngambek. Dia memutar posisi tidurnya jadi membelakangi Hector. Rambut panjangnya terurai di atas bantal dan selimut.
Ngeliat Prudy ngambek, membuat Hector tertawa kecil. Memang banyak keluhan yang di alami oleh orang hamil, tetapi ada satu hal yang membuat mereka menjalani semua itu dengan suka cita...
"Meskipun begitu..."
Hector perlahan menyisir rambut panjang Prudy menggunakan tangan, menaikannya sedikit buat mencium surai pirang terang yang merupakan keturunan dari Peter. Prudy tak bergidik ketika Hector melakukan itu, justeru dia merasa lebih tenang. Segala bentuk sentuhan dari Hector mampu menenangkan Prudy.
"Melihatmu lahir sehat dan selamat membuat semuanya sebanding. Aku dan Peter sama-sama menangis seperti orang tolol saat melihatmu untuk pertama kalinya... Anak kami berdua, yang cantik dan menawan." ucap Hector yang sekarang menurunkan kepalanya untuk mencium kening Prudy.
"...Daddy..." Prudy bisa merasakan sentimen kental dalam perkataan Hector, dan itu mengejutkannya. Karena kedua ayahnya bukan tipe orang yang gampang mendeskripsikan perasaan mereka secara baik. "A-Apa menurutmu aku dan Hamish bisa... Menjadi... Orang tua yang baik?" Tiba-tiba saja dia dilanda kekhawatiran mendadak.
Lagi-lagi Hector dibuat tertawa oleh omongan nyeleneh anak tunggalnya ini, "Bicara apa kamu, you're going to be a great parent and so does Hamish. Hanya saja saranku sih jangan biarkan anak kalian nanti deket-deket sama Sherlock dan keluarganya. Kecuali sama John, of course." Pas ngomongin Sherlock, mukanya Hector berubah jengkel.
"Seriously? Kamu itu punya masalah apa sih sama Sherlock, Daddy? Dia orang yang baik kok," Prudy tadinya mau ngebelain Sherlock, hitung-hitung sebagai menantu yang baik; tapi cepet dia sadar, "Well dia emang nyebelin sih pada awalnya tapi he's okay now. Ingat tidak, Sherlock memberikan cincin peninggalan ibunya untuk digunakan pada pernikahan kami?" Untuk menekan maksudnya, Prudy memamerkan cincin putih emas yang melingkar di jari manis sebelah kirinya. Cincin pernikahannya dengan Hamish, yang selalu Prudy pamerkan ke semua orang sampai detik ini.
Hector tak kuasa memutar kedua matanya gegara komen Prudy soal Sherlock. Anaknya gak ngertiin perasaannya banget sih, Hector itu gak begitu suka sama Sherlock karena detektif itu ngejengkelin banget. Lebih nyebelin daripada Peter, malah?! Bagi Hector gak boleh ada orang lain yang lebih nyebelin dari Peter dan Prudy! Bawaannya pengen nonjok Sherlock kalau mereka ketemu tiap kali mengadakan makan malam keluarga...
Yang pasti selalu di netralisir sama John. Ah, John. Hector suka banget sama John, mereka selayaknya saudara jauh yang ketemu kembali saat Hector dan Peter mendatangi keluarga Holmes untuk membicarakan soal pernikahan anak-anak mereka. Jadi inget waktu itu Prudy dan Hamish duduk berduaan dalam posisi kaku gak berani ngeliat satu sama lain saking malunya ngeliat kedua orang tua mereka pada akhirnya bertemu juga dan atmosfir keadaan mendadak berubah drastis... Lebih... Gelap, gitu. Yah sampai dicapai kesepakatan soal tanggal pernikahan, sih.
"But anyways, mari lupakan soal si bego Sherlock. Sekarang yang penting adalah kamu," Hector segera mengembalikan topik pembicaraan mereka kembali pada semula. "Dad mau beberes buat makan malam. Kamu harus memaksakan dirimu untuk makan, ngerti?" Perintah Hector.
Prudy segera menggeram dibawah nafasnya. Dia mulai menggerutu, "Bagian mana dari 'Aku mual setengah mati dan aku rasa kalau aku memasukan sesuatu kedalam perut aku akan memuntahkannya lagi' yang tak kau mengerti, Daddy??"
"Heh, kamu harus bisa memakan sesuatu. Think about your baby now. Kekurangan nutrisi bisa membuat kalian berdua tidak fit, mengerti?" Hector menggeram balik ke Prudy.
Mendengar ancaman kalau bayinya bisa kenapa-kenapa akibat kekurangan nutrisi, Prudy ngalah. Benar kata ayahnya, ia harus memikirkan tentang si bayi juga sekarang...
Prudy menatap Hector yang sudah bangkit dari atas tempat tidur dan dalam setengah perjalanan menuju pintu keluar, "Aku tahu. Maafkan aku, aku akan mencoba untuk makan..." Tanpa sadar Prudy dibawah selimut mengusap-usap perutnya yang tertutupi oleh sweater abu-abu. Belum terlihat jelas bukti dari kehamilannya, tapi si janin itu ada. Hidup tenang di dalam rahimnya.
"There's a good girl," Hector melirik kebelakang pundaknya sedikit sambil menyeringai. Dia terhenti pas di figura pintu untul melanjutkan perkataannya; "Istirahat sekarang, dearest. Daddy loves you."
"I love you more, Daddy. Thanks."
Prudy membalas cepat ucapan Hector sebelum pria itu pergi meninggalkannya di dalam kamar sendirian. Lalu Prudy sadar kalau seharian ia belum mengecek ponselnya yang ia geletakan begitu saja di meja samping tempat tidur. Maka bergerak keluarlah tangan Prudy dari dalam selimut untuk meraih ponselnya,
"What the hell..." Dia gak sengaja berkomentar pas ngeliat ada banyak pesan baru menumpuk dan 12 panggilan tak terjawab. Semuanya tentu saja dari Hamish.
Isi dari pesan Hamish semuanya hampir sama, yaitu menanyakan keadaan Prudy dan si bayi. Dan pesannya berubah dari omongan panjang menanyakan kenapa Prudy tak kunjung membalas pesan atau mengangkat telepon darinya, jadi Hamish meminta maaf berulang-ulang kali karena sudah meninggalkan Prudy di London.
// Hamish Watson - Holmes / 16:25
Sekali lagi maafkan aku, Prudence. Aku akan kembali secepatnya ke London untuk menemuimu. Please be well and healthy for our child. I am sorry, I love you. //
Yang bikin Prudy mau ketawa ngikik baca pesan-pesannya Hamish adalah setiap tulisan 'I love you' di akhiran kalimatnya. Damn, Hamish tidak pernah ----sekalipun--- mengatakan cinta kepada Prudy baik secara langsung atau tidak langsung. Heran kan, gimana ceritanya mereka bisa menikah terus berada dalam kondisi sekarang ini?
Akhirnya Prudy sambil cengengesan membalas begini,
// Prudence Guillam-Holmes / 16:30
You little shit. Cepat pulang, makanya. //
Tiba-tiba saja Prudy tak merasa buruk atau mual lagi. Memang suami sekaligus ayah dari bayi yang ia kandung itu lagi berada jauh darinya, tetapi komunikasi mereka tetap terjalin baik dan Hamish selalu meminta diberikan informasi tentang keadaan Prudy dan si bayi.
Juga ada Hector yang menjaganya dirumah selayaknya anak-anak lagi, dan Peter yang memonitor keadaan suami dan puterinya dari kantor.
Yeah, Prudy dikelilingi oleh orang-orang yang mencintainya.
翻訳されて、しばらくお待ちください..
