Kapal ‘Tol Laut’ Nunggak Rp1 Miliar Lebih
Feb 04, 2016 Arohman SURABAYA
TOL LAUT: KM Mutiara Persada III saat sandar di Dermaga Jamrud Utara, Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya. [DUTA/Ari Armadianto]
SURABAYA – PT Atosim Lampung Pelayaran (ALP), operator kapal ‘tol laut’ pertama di Indonesia menunggak biaya pelayanan kapal di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya mencapai Rp1 miliar lebih. Tunggakan tersebut sejak beroperasinya kapal KM Mutiara Persada III dari Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya-Bandar Lampung pada 8 Mei 2015.
Asisten Manager Operasi Terminal Penumpang dan Ro-Ro PT. Pelindo III Cabang Tanjung Perak, Fitria Kartikasari menuturkan, tunggakan itu merupakan akumulasi kunjungan kapal jenis roll on-roll off (Ro-Ro) ini sebanyak 46 kunjungan selama 8 bulan.
“Hasil rekapitulasi, piutangnya mencapai Rp1.051.409.398. Kunjungan 8 Mei-31 Desember 2015 atau sebanyak 5.927 unit kendaraan (klas I-VII), baik yang naik maupun turun dari ke Surabaya,” tuturnya kepada DUTA, Selasa (3/2).
Untuk mengurangi angka piutang tersebut, kata Fitria, pihaknya mengaku kesulitan. Pasalnya, perusahaan yang mengoperasikan kapal buatan Jepang 1991 dengan harga lebih dari Rp100 miliar tersebut tidak ada kesadaran untuk membayar biaya pelayanan kapal, berupa tambat, pandu, tunda, dan pas Ro-Ro.
“Piutang terbesar pada pelayanan pandu mencapai Rp640 juta. Kami sudah beberapa kali kirim surat dengan tembusan direksi. Bahkan, kami ke kantor cabang,” ungkapnya.
Menghadapi tipologi perusahaan yang dipercaya oleh pemerintah menjalankan Program Tol Laut yang belum setahun itu, lanjut Fitria, pihaknya tetap berupaya persuasif. Salah satunya, dengan memberikan keringanan.
“Kami berupaya memberikan diskon pada 20 September lalu, tapi tetap tidak ada niatan melunasi. Sehingga keringanan yang berjalan enam bulan itu otomatis gugur atau tetap berlaku tarif normal,” jelasnya.
Meski demikian, PT. Pelindo III Cabang Tanjung Perak tetap memberikan pelayanan kapal. Pasalnya. KM Mutiara Persada III, selain mengangkut 150 truk besar dan 50 truk kecil pengangkut barang, kapal ini juga mengakomodasi penumpang hingga 500 orang.
Ryan Bernandus, Direktur Utama PT. ALP saat dikonfirmasi ia enggan memberikan keterangan terkait tunggakan pelayanan kapal di Pelabuhan Tanjung Perak. Ia hanya menjelaskan, bahwa kapal memiliki panjang lebih dari lapangan sepakbola ini, tetap beroperasi.
“Masih-masih jalan, saya ada dipelabuhan. Kalau untuk program pemerintah tetap masih jalan. Saya lagi nyetir menuju galangan. Sudah ya!,” kata Ryan seraya menjawab dengan nada hati-hati.
Sama dengan Ryan, Lutfi Syarif Direktur Umum PT. ALP juga enggan memberikan keterangan saat dikonfirmasi DUTA. Selalu menghindar, dan terkesan menutupi.
“Maaf saya lagi rapat. Ok ya mas!,” kata Lutfi.
Beberapa petinggi lainnya, yakni Asep Suparman, Direktur Komersial dan General Manager PT. APL Cabang Surabaya, Andy Kusuma juga enggan berkomentar terkait piutang BUMN Kepelabuhanan tersebut.
Untuk diketahui, kapal ‘tol laut’ pertama di Indonesia itu diresmikan Menteri Perhubungan Ignasius Jonan pada 6 Mei 2015. Kapal bercat putih dipadu warna biru itu memiliki panjang 151,3 meter selalu mendapatkan tambatan di dermaga Jamrud Utara, Pelabuhan Tanjung Perak.
Kapal buatan Jepang tahun 1991 itu memiliki kapasitas parkir kendaraan hingga 3 tingkat, sehingga mampu mengakomodasi 150 unit truk besar dan 587 unit mobil berukuran kecil atau 50 truk kecil. Sayangnya, dalam kurun waktu 8 bulan, kapal tersebut hanya mampu menggendong 5.927 unit kendaraan. (arm)