“Aku takkan melupakan betapa kompetitif mereka satu sama lain.” Tadashi menggeleng terhibur mengingat masa lalu. “Aku merasa bahwa aku adalah saudara yang terbuang. Serius! Aku selalu menceritakan ini padamu kan? Tetapi beneran deh mereka berdua kadang lupa kalau aku ada. Man, tidak ada yang suka dengan kutu buku macam aku yang sukanya main robot. Sampai kau lahir.” Tadashi menyenggol Hiro dengan senyum yang permanen disana. “Thanks, Hiro.”
Hiro merasa tubuhnya menghangat mendengar omongan kakaknya. Wajahnya pasti sedang memerah tidak karuan. Ia menundukkan kepalanya sambil menyenggol balik Tadashi yang membalas dengan gosokan lembut di rambut Hiro.
“Aku akan membiarkanmu tidur lagi, ok? Kau terlihat butuh tidur. Aku akan di kamar jika kau butuh apa-apa.”
“Butuh apa…” Hiro bergumam pelan tanpa sadar.
Tadashi tersenyum, “Butuh teman tidur mungkin?”
Hiro memerah dan mendorong kakaknya keluar dari kamar. “Geez, aku hanya mimpi buruk seperti itu pas umur 8 tahun! Dan kau selalu mengulang-ulang kejadian itu!” Tadashi tertawa kecil, “Kau menyebut-nyebut namaku seperti itu tentu saja aku ingat! Hiro kecil berteriak memanggil namaku lalu terbangun kaget dari mimpi dan meloncat kekasurku ketakutan. ‘Ada sesuatu dibawah kasurku, Tadashiiii’.”
“Agh, hentikan!”
Tadashi berhenti tertawa dan mengelus rambut Hiro pelan. “Okay okay aku akan mengurung di kamar sekarang. Nanti pas waktunya makan siang aku akan membangunkanmu.”
“Yeah hush sana pergi.”
“Aku takkan melupakan betapa kompetitif mereka satu sama lain.” Tadashi menggeleng terhibur mengingat masa lalu. “Aku merasa bahwa aku adalah saudara yang terbuang. Serius! Aku selalu menceritakan ini padamu kan? Tetapi beneran deh mereka berdua kadang lupa kalau aku ada. Man, tidak ada yang suka dengan kutu buku macam aku yang sukanya main robot. Sampai kau lahir.” Tadashi menyenggol Hiro dengan senyum yang permanen disana. “Thanks, Hiro.”
Hiro merasa tubuhnya menghangat mendengar omongan kakaknya. Wajahnya pasti sedang memerah tidak karuan. Ia menundukkan kepalanya sambil menyenggol balik Tadashi yang membalas dengan gosokan lembut di rambut Hiro.
“Aku akan membiarkanmu tidur lagi, ok? Kau terlihat butuh tidur. Aku akan di kamar jika kau butuh apa-apa.”
“Butuh apa…” Hiro bergumam pelan tanpa sadar.
Tadashi tersenyum, “Butuh teman tidur mungkin?”
Hiro memerah dan mendorong kakaknya keluar dari kamar. “Geez, aku hanya mimpi buruk seperti itu pas umur 8 tahun! Dan kau selalu mengulang-ulang kejadian itu!” Tadashi tertawa kecil, “Kau menyebut-nyebut namaku seperti itu tentu saja aku ingat! Hiro kecil berteriak memanggil namaku lalu terbangun kaget dari mimpi dan meloncat kekasurku ketakutan. ‘Ada sesuatu dibawah kasurku, Tadashiiii’.”
“Agh, hentikan!”
Tadashi berhenti tertawa dan mengelus rambut Hiro pelan. “Okay okay aku akan mengurung di kamar sekarang. Nanti pas waktunya makan siang aku akan membangunkanmu.”
“Yeah hush sana pergi.”
翻訳されて、しばらくお待ちください..
