Kamu serius tetap akan menikahi pria itu, Peter!? Kami sudah bilang kalau kami tidak mengizinkannya, bukan!?"
Peter Guillam diam saja mendengar pamannya memaki menggunakan bahasa Perancis. Dia sendiri duduk manis di hadapan Paman dan Bibi yang merupakan orang tua pengganti baginya, karena ayah dan ibu Peter meninggal saat Peter masih kecil.
Si Bibi ikutan berkomentar, "Pria ini adalah pria yang berbahaya, Peter... Dia bisa saja melukaimu... Dan mungkin..." Ia tak sanggup mengucapkan kata 'membunuh' karena terbayang Peter tersayangnya dalam kondisi mengenaskan.
"Kalian tidak mengenal Hector," Peter berusaha tetap tenang dan kolektif, dia tidak ingin menantang balik kedua orang tuanya namun mereka sama sekali tak membantunya. "Aku sudah kenal betul dia itu seperti apa, dan keputusanku untuk menikahinya sudah tetap."
Si Paman dan Bibi bertukar pandang sebentar, seolah-olah sedang mencari alasan lain untuk membalas perkataan Peter.
"Tetapi dia bekerja sebagai pembunuh bayaran, seorang hitman! Pekerjaannya adalah membunuh orang demi uang! Dia itu keji dan berbahaya, bagaimana bisa kamu mencintai orang seperti itu?! Dan ingin menghabiskan hidupmu bersama dengannya?!" Teriak si Paman.
"Mau jadi apa keluarga kalian, hah? Pikirkan tentang anak-anak kalian nanti." Si Bibi juga ikut-ikutan kencengnya.
Mereka berdua saling sahut menyahut di depan Peter yang tetap berada dalam kondisi tenang. Bukannya dia menghiraukan semua omongan mereka, akan tetapi Peter sudah yakin kalau pilihannya itu adalah pilihan yang tepat. Seandainya saja mereka mau mengenal Hector...
Akhirnya Peter memutuskan cukup untuk mendengar omongan negatif mereka tentang calon suaminya.
"Hentikan, father. Mother."
Sontak kedua orang tua itu menutup mulut mereka. Bukan karena kesal di tantang balik oleh sang anak, tetapi lebih pada kaget saat melihat ekspresi wajah Peter yang berubah datar nan mengintimidasi. Sifat yang cuman di 'keluarkan' oleh Peter kala bekerja atau bertemu klien. Tak pernah ia perlihatkan kalau lagi sama keluarga atau sama Hector.
"Berhentilah mengatakan hal buruk tentang Hector. Kalian tidak mengenalnya seperti aku, kami sudah tinggal bersama sangat lama dan punya ritme kehidupan sendiri," Peter menarik nafas dalam-dalam dahulu, "Dia tidak seburuk yang kalian kira. Jangan kalian lihat dia dari pekerjaan yang ia miliki, langsung memberikan penilaian buruk tanpa melihat siapa dia sesungguhnya..."
Cepat datang sahutan penuh kekesalan membalas omongan Peter dari sang Paman, "Kenapa kamu lebih membela dia daripada kami? Kami yang merawatmu sejak kecil, menganggapmu sebagai anak kami sendiri; wajar kalau kami tidak menginginkan hal buruk terjadi kepadamu!"
"Sudah aku bilang kalau Hector bukanlah orang yang buruk." Potong Peter. Alis matanya mulai menukik tajam karena rasa tidak suka.
"Apa yang bisa membuatmu berpikiran seperti itu, nak? Apa yang membuatmu yakin kalau ia tidak akan melukaimu?"
Kemudian datang pertanyaan serius dari Bibi-nya, yang nampak seperti akan menangis.
Peter dengan senang hati akan menjelaskan kenapa dia bisa jatuh cinta kepada seorang Hector Dixon yang ditakuti banyak orang.
"Kalau menurut kalian Hector itu jahat dan keji, akankah dia menangis ketika aku memintanya untuk menikahiku? Dan hal pertama yang ia katakan kepadaku setelah aku melamarnya adalah 'apakah kamu yakin ingin menikahi seseorang sepertiku?' Dia bahkan menyuruhku untuk berpikir beberapa kali."
Ya, Peter ingat hari itu. Hari di mana dia melamar kekasihnya, Hector Dixon. Dia sebelumnya tak akan pernah menyangka kalau hubungannya dengan Hector akan awet sampai bertahun-tahun, dan Peter memutuskan untuk menikahinya; namun Hector awalnya tak setuju dengan rencana Peter karena dia takut kalau dia bukanlah orang yang cocok bagi Peter dalam menjalani kehidupan berumah tangga;
Hector sendiri tahu kalau dia bukanlah pilihan banyak semua orang. Karena itulah dia benar-benar tidak percaya saat Peter datang melamarnya dengan cara tradisional yaitu duduk bertekuk lutut sambil memperlihatkan cincin emas kuning pucat yang Peter pesan khusus baginya...
Peter merasakan dadanya sesak, kenapa kedua orang tuanya ini tak kunjung mau mengerti? Hector itu sama saja dengan orang lain; punya hobi, pekerjaan lain untuk dilakukan, kesukaan tersendiri, dan juga ketakutan. Di mata Peter, Hector adalah sempurna. Well, secara harafiah memang tak ada manusia yang sempurna, tetapi... You know the concept, lah.
"Memang hubunganku dengan Hector bukanlah hubungan yang mudah, akan tetapi aku yakin kami bisa melaluinya. Dia adalah orang yang baik, percayalah padaku." Lanjut Peter, berusaha tetap tersenyum.
Pastilah hubungan mereka tak mudah. Banyak rintangan yang harus mereka lalui terlebih dahulu sebelum bisa bersama, seperti masalah Peter dengan pekerjaannya dan Hector yang awalnya berusaha untuk tak menjalin hubungan lebih dekat dengan Peter...
Tak dapat dipungkiri kalau perbedaan diantara Peter dan Hector itu begitu kentara, sehingga orang-orang berpikir mereka tidak akan pernah bisa bersatu.
"Dan soal anak..." Peter mendehem sebelum melanjutkan. Mukanya sedikit bersemu merah, "Memang Dia agak kikuk kalau sama anak-anak, namun dia sabar menghadapi mereka. Aku yakin kami bisa membesarkan anak dengan baik, despite kehidupan kami yang seperti ini..."
Hector bersama anak-anak mungkin adalah kombinasi yang aneh. Tetapi Peter membayangkan kala mereka sudah berkeluarga nanti dan memiliki anak; entah anak perempuan atau laki-laki, Hector akan menjadi protektif kepada mereka. Karena Hector benci jika ada yang menganggu kehidupannya dan itu berlaku bagi anak-anak mereka juga.
Argumen kedua orang tua Peter rasanya menemui jalan buntu karena Peter kerap kali membalikan perkataan mereka dengan alasan yang sebenarnya picisan, akan tetapi terdengar rasional karena Peter mengatakannya sungguh-sungguh tanpa ada sedikitpun keraguan.
"Sudahlah. Terserah kepadamu mau melakukan apa," Karena sudah tidak sabar menghadapi Peter, sang paman memilih beranjak dari tempatnya duduk. Meninggalkan isterinya dan Peter. Tapi sebelumnya dia menambahkan; "Kalau pria yang kamu puja itu pada akhirnya melukaimu dan tidak sesuai dengan harapanmu, jangan datang mengeluh apalagi meminta pertolongan ke rumah ini."
Si Bibi tercekat mendengar ultimatum suaminya. Dia mau meneriakinya, tapi Peter keburu memotong.
"I won't," Kata Peter, anehnya sambil tersenyum lebar sekali. "Pernikahan adalah suatu ikatan yang mengharuskan dua orang berkomitmen akan apa yang mereka pilih. Mereka diharuskan untuk saling pengertian dan menerima keadaan. Aku menerima kenyataan aku akan menikahi seorang hitman dingin, yang tidak jauh berbeda dari diriku."
Peter melanjutkan, "Tetapi aku bisa melihat kalau Hector itu lebih dari semua hal buruk nan negatif yang kalian takutkan. Aku tidak mau mengubah Hector. Aku mencintainya apa adanya, aku tak akan mengenyahkan semua itu darinya."
Untuk menutup seluruh argumen yang tak menemui titik terang ini, Peter juga ikut bangkit dari kursinya. Masih dengan senyuman, dia mengutarakan isi hatinya yang terakhir.
"Aku harap kalian berdua datang ke pernikahan kami, karena Hector mengharapkan kalian untuk datang," Peter pun beralih menuju pintu keluar. "Aku tidak akan datang kemari kalau bukan Hector yang menyuruhku. Karena aku tahu kalian akan menentang pernikahan kami."
Dengan itu Peter pergi meninggalkan kedua orang tuanya. Tidak menengok kebelakang sedikit pun untuk mengucapkan selamat tinggal atau meminta maaf atas semua perkataannya.
Untuk apa Peter meminta maaf? Dia tidak merasa salah. Tidak mendengarkan nasehat orang tua, ya itu memang benar... Tapi Peter yakin kepada keputusannya ini. Terserah mereka mau datang atau tidak, yang penting Peter sudah memberitahu. Dia tahu hal ini pasti akan membuat Hector sedih, tapi apa daya...
Toh orang tua Peter mau hadir atau tidak hadir, pernikahan akan tetap berlangsung. Bukanlah masalah apabila pernikahan mereka tidak di restui, Peter dan Hector tak akan pernah menyesalinya.
Mereka tidak pernah menyesal sedikitpun karena tak perlu ada yang sesali dari hubungan cinta ini.
Tidak perlu. Tidak ada waktu untuk menyesalinya pula, karena Peter dan Hector merasa bahagia setiap hari atas kehadiran satu sama lain.
"HURK----!"
Prudy hampir memasukan setengah wajahnya kedalam toilet untuk memuntahkan kembali isi perutnya. Yang baru saja diisi teh dan biskuit, satu-satunya makanan yang baru dia makan sepanjang hari.
"There, there, sini Daddy pegang rambutmu biar tidak kotor." Hector duduk jongkok di samping puterinya yang tahun ini berumur 24 tahun tersebut. Rambut panjang miliknya di ikat menyamping bahu oleh Hector, dia cuman bisa melakukan itu untuk membantu Prudy. Selebihnya ya... Well, gak bisa.
"God fucking dammit-- I can't. I fucking can't anymore..." Prudy mengangkat wajahnya. Bulir air mata ikut jatuh dari matanya karena dia tak terbiasa memuntahkan makanannya, sehingga muntah terasa sangat menyakitkan bagi dirinya.
Kehamilan ini menyiksa Prudy. Hamish yang sedang pergi keluar kota untuk bertugas juga tidak membantunya, suaminya untuk 5 tahun itu dipaksa ikut oleh tim-nya untuk membantu mereka mengatasi kasus pembunuhan berantai di kota sebelah. Yah maklum sih, Hamish Watson-Holmes, profiler kriminal terkenal seantero Inggris.
Hector membantu Prudy berdiri dari tempatnya duduk merana, menuntun si anak gadis keluar kamar mandi menuju kamar tidurnya. Atau kamar yang dulu ia tempati sampai masa remajanya, sekarang Prudy nginep balik ke rumah kedua orang tuanya selama Hamish pergi keluar kota.
"Rebahan dulu gih. Jangan banyak bergerak, nanti mual lagi." Hector menasehati sambil menyelimuti Prudy. Rasanya jadi kayak ngurusin Prudy yang balik kecil, Hector diam-diam seneng sendiri jadinya. Ia kemudian duduk di pinggir tempat tidur, kepala Prudy yang lagi rebahan berdesakan sama pinggang Hector.
Prudy menggera
Kamu serius tetap akan menikahi pria itu, Peter!? Kami sudah bilang kalau kami tidak mengizinkannya, bukan!?"
Peter Guillam diam saja mendengar pamannya memaki menggunakan bahasa Perancis. Dia sendiri duduk manis di hadapan Paman dan Bibi yang merupakan orang tua pengganti baginya, karena ayah dan ibu Peter meninggal saat Peter masih kecil.
Si Bibi ikutan berkomentar, "Pria ini adalah pria yang berbahaya, Peter... Dia bisa saja melukaimu... Dan mungkin..." Ia tak sanggup mengucapkan kata 'membunuh' karena terbayang Peter tersayangnya dalam kondisi mengenaskan.
"Kalian tidak mengenal Hector," Peter berusaha tetap tenang dan kolektif, dia tidak ingin menantang balik kedua orang tuanya namun mereka sama sekali tak membantunya. "Aku sudah kenal betul dia itu seperti apa, dan keputusanku untuk menikahinya sudah tetap."
Si Paman dan Bibi bertukar pandang sebentar, seolah-olah sedang mencari alasan lain untuk membalas perkataan Peter.
"Tetapi dia bekerja sebagai pembunuh bayaran, seorang hitman! Pekerjaannya adalah membunuh orang demi uang! Dia itu keji dan berbahaya, bagaimana bisa kamu mencintai orang seperti itu?! Dan ingin menghabiskan hidupmu bersama dengannya?!" Teriak si Paman.
"Mau jadi apa keluarga kalian, hah? Pikirkan tentang anak-anak kalian nanti." Si Bibi juga ikut-ikutan kencengnya.
Mereka berdua saling sahut menyahut di depan Peter yang tetap berada dalam kondisi tenang. Bukannya dia menghiraukan semua omongan mereka, akan tetapi Peter sudah yakin kalau pilihannya itu adalah pilihan yang tepat. Seandainya saja mereka mau mengenal Hector...
Akhirnya Peter memutuskan cukup untuk mendengar omongan negatif mereka tentang calon suaminya.
"Hentikan, father. Mother."
Sontak kedua orang tua itu menutup mulut mereka. Bukan karena kesal di tantang balik oleh sang anak, tetapi lebih pada kaget saat melihat ekspresi wajah Peter yang berubah datar nan mengintimidasi. Sifat yang cuman di 'keluarkan' oleh Peter kala bekerja atau bertemu klien. Tak pernah ia perlihatkan kalau lagi sama keluarga atau sama Hector.
"Berhentilah mengatakan hal buruk tentang Hector. Kalian tidak mengenalnya seperti aku, kami sudah tinggal bersama sangat lama dan punya ritme kehidupan sendiri," Peter menarik nafas dalam-dalam dahulu, "Dia tidak seburuk yang kalian kira. Jangan kalian lihat dia dari pekerjaan yang ia miliki, langsung memberikan penilaian buruk tanpa melihat siapa dia sesungguhnya..."
Cepat datang sahutan penuh kekesalan membalas omongan Peter dari sang Paman, "Kenapa kamu lebih membela dia daripada kami? Kami yang merawatmu sejak kecil, menganggapmu sebagai anak kami sendiri; wajar kalau kami tidak menginginkan hal buruk terjadi kepadamu!"
"Sudah aku bilang kalau Hector bukanlah orang yang buruk." Potong Peter. Alis matanya mulai menukik tajam karena rasa tidak suka.
"Apa yang bisa membuatmu berpikiran seperti itu, nak? Apa yang membuatmu yakin kalau ia tidak akan melukaimu?"
Kemudian datang pertanyaan serius dari Bibi-nya, yang nampak seperti akan menangis.
Peter dengan senang hati akan menjelaskan kenapa dia bisa jatuh cinta kepada seorang Hector Dixon yang ditakuti banyak orang.
"Kalau menurut kalian Hector itu jahat dan keji, akankah dia menangis ketika aku memintanya untuk menikahiku? Dan hal pertama yang ia katakan kepadaku setelah aku melamarnya adalah 'apakah kamu yakin ingin menikahi seseorang sepertiku?' Dia bahkan menyuruhku untuk berpikir beberapa kali."
Ya, Peter ingat hari itu. Hari di mana dia melamar kekasihnya, Hector Dixon. Dia sebelumnya tak akan pernah menyangka kalau hubungannya dengan Hector akan awet sampai bertahun-tahun, dan Peter memutuskan untuk menikahinya; namun Hector awalnya tak setuju dengan rencana Peter karena dia takut kalau dia bukanlah orang yang cocok bagi Peter dalam menjalani kehidupan berumah tangga;
Hector sendiri tahu kalau dia bukanlah pilihan banyak semua orang. Karena itulah dia benar-benar tidak percaya saat Peter datang melamarnya dengan cara tradisional yaitu duduk bertekuk lutut sambil memperlihatkan cincin emas kuning pucat yang Peter pesan khusus baginya...
Peter merasakan dadanya sesak, kenapa kedua orang tuanya ini tak kunjung mau mengerti? Hector itu sama saja dengan orang lain; punya hobi, pekerjaan lain untuk dilakukan, kesukaan tersendiri, dan juga ketakutan. Di mata Peter, Hector adalah sempurna. Well, secara harafiah memang tak ada manusia yang sempurna, tetapi... You know the concept, lah.
"Memang hubunganku dengan Hector bukanlah hubungan yang mudah, akan tetapi aku yakin kami bisa melaluinya. Dia adalah orang yang baik, percayalah padaku." Lanjut Peter, berusaha tetap tersenyum.
Pastilah hubungan mereka tak mudah. Banyak rintangan yang harus mereka lalui terlebih dahulu sebelum bisa bersama, seperti masalah Peter dengan pekerjaannya dan Hector yang awalnya berusaha untuk tak menjalin hubungan lebih dekat dengan Peter...
Tak dapat dipungkiri kalau perbedaan diantara Peter dan Hector itu begitu kentara, sehingga orang-orang berpikir mereka tidak akan pernah bisa bersatu.
"Dan soal anak..." Peter mendehem sebelum melanjutkan. Mukanya sedikit bersemu merah, "Memang Dia agak kikuk kalau sama anak-anak, namun dia sabar menghadapi mereka. Aku yakin kami bisa membesarkan anak dengan baik, despite kehidupan kami yang seperti ini..."
Hector bersama anak-anak mungkin adalah kombinasi yang aneh. Tetapi Peter membayangkan kala mereka sudah berkeluarga nanti dan memiliki anak; entah anak perempuan atau laki-laki, Hector akan menjadi protektif kepada mereka. Karena Hector benci jika ada yang menganggu kehidupannya dan itu berlaku bagi anak-anak mereka juga.
Argumen kedua orang tua Peter rasanya menemui jalan buntu karena Peter kerap kali membalikan perkataan mereka dengan alasan yang sebenarnya picisan, akan tetapi terdengar rasional karena Peter mengatakannya sungguh-sungguh tanpa ada sedikitpun keraguan.
"Sudahlah. Terserah kepadamu mau melakukan apa," Karena sudah tidak sabar menghadapi Peter, sang paman memilih beranjak dari tempatnya duduk. Meninggalkan isterinya dan Peter. Tapi sebelumnya dia menambahkan; "Kalau pria yang kamu puja itu pada akhirnya melukaimu dan tidak sesuai dengan harapanmu, jangan datang mengeluh apalagi meminta pertolongan ke rumah ini."
Si Bibi tercekat mendengar ultimatum suaminya. Dia mau meneriakinya, tapi Peter keburu memotong.
"I won't," Kata Peter, anehnya sambil tersenyum lebar sekali. "Pernikahan adalah suatu ikatan yang mengharuskan dua orang berkomitmen akan apa yang mereka pilih. Mereka diharuskan untuk saling pengertian dan menerima keadaan. Aku menerima kenyataan aku akan menikahi seorang hitman dingin, yang tidak jauh berbeda dari diriku."
Peter melanjutkan, "Tetapi aku bisa melihat kalau Hector itu lebih dari semua hal buruk nan negatif yang kalian takutkan. Aku tidak mau mengubah Hector. Aku mencintainya apa adanya, aku tak akan mengenyahkan semua itu darinya."
Untuk menutup seluruh argumen yang tak menemui titik terang ini, Peter juga ikut bangkit dari kursinya. Masih dengan senyuman, dia mengutarakan isi hatinya yang terakhir.
"Aku harap kalian berdua datang ke pernikahan kami, karena Hector mengharapkan kalian untuk datang," Peter pun beralih menuju pintu keluar. "Aku tidak akan datang kemari kalau bukan Hector yang menyuruhku. Karena aku tahu kalian akan menentang pernikahan kami."
Dengan itu Peter pergi meninggalkan kedua orang tuanya. Tidak menengok kebelakang sedikit pun untuk mengucapkan selamat tinggal atau meminta maaf atas semua perkataannya.
Untuk apa Peter meminta maaf? Dia tidak merasa salah. Tidak mendengarkan nasehat orang tua, ya itu memang benar... Tapi Peter yakin kepada keputusannya ini. Terserah mereka mau datang atau tidak, yang penting Peter sudah memberitahu. Dia tahu hal ini pasti akan membuat Hector sedih, tapi apa daya...
Toh orang tua Peter mau hadir atau tidak hadir, pernikahan akan tetap berlangsung. Bukanlah masalah apabila pernikahan mereka tidak di restui, Peter dan Hector tak akan pernah menyesalinya.
Mereka tidak pernah menyesal sedikitpun karena tak perlu ada yang sesali dari hubungan cinta ini.
Tidak perlu. Tidak ada waktu untuk menyesalinya pula, karena Peter dan Hector merasa bahagia setiap hari atas kehadiran satu sama lain.
"HURK----!"
Prudy hampir memasukan setengah wajahnya kedalam toilet untuk memuntahkan kembali isi perutnya. Yang baru saja diisi teh dan biskuit, satu-satunya makanan yang baru dia makan sepanjang hari.
"There, there, sini Daddy pegang rambutmu biar tidak kotor." Hector duduk jongkok di samping puterinya yang tahun ini berumur 24 tahun tersebut. Rambut panjang miliknya di ikat menyamping bahu oleh Hector, dia cuman bisa melakukan itu untuk membantu Prudy. Selebihnya ya... Well, gak bisa.
"God fucking dammit-- I can't. I fucking can't anymore..." Prudy mengangkat wajahnya. Bulir air mata ikut jatuh dari matanya karena dia tak terbiasa memuntahkan makanannya, sehingga muntah terasa sangat menyakitkan bagi dirinya.
Kehamilan ini menyiksa Prudy. Hamish yang sedang pergi keluar kota untuk bertugas juga tidak membantunya, suaminya untuk 5 tahun itu dipaksa ikut oleh tim-nya untuk membantu mereka mengatasi kasus pembunuhan berantai di kota sebelah. Yah maklum sih, Hamish Watson-Holmes, profiler kriminal terkenal seantero Inggris.
Hector membantu Prudy berdiri dari tempatnya duduk merana, menuntun si anak gadis keluar kamar mandi menuju kamar tidurnya. Atau kamar yang dulu ia tempati sampai masa remajanya, sekarang Prudy nginep balik ke rumah kedua orang tuanya selama Hamish pergi keluar kota.
"Rebahan dulu gih. Jangan banyak bergerak, nanti mual lagi." Hector menasehati sambil menyelimuti Prudy. Rasanya jadi kayak ngurusin Prudy yang balik kecil, Hector diam-diam seneng sendiri jadinya. Ia kemudian duduk di pinggir tempat tidur, kepala Prudy yang lagi rebahan berdesakan sama pinggang Hector.
Prudy menggera
翻訳されて、しばらくお待ちください..
